Jumat Agung
Pk. 07.00
Dilayani oleh: Pdt. Setyahadi
Ayat Pembuka
Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"
-Galatia 3:13-
Anugerah Salib
tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,
dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,
dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
-Yesaya 53:5-
Bacaan:
Yudas 1:17-23
Kita sering terkagum-kagum karena orang lain yang hebat. Kita memuji dan berdecak kagum melihat kisah sukses mereka. Seorang wartawan, seorang rohaniwan, seorang olahragawan, seorang ilmuwan, seorang wiraswastawan dan lain-lain.
Orang-orang hebat itu adalah orang-orang yang berkemauan keras dan setia kepada cita-citanya. Orang yang tidak berhenti sebelum mencapai cita-citanya. Orang yang berjuang dengan sekuat tenaga, bahkan hingga kehilangan dirinya -atau nyawanya!
Benito Aquino, seorang yang sangat gigih berusaha memperbaiki tatanan di negara dia berada. Cita-cita yang diperjuangkannya sungguh benar dan mulia, namun konsekuensi apa yang Benito Aquino dapatkan? Dia diasingkan, dijebloskan ke dalam penjara; akan tetapi Benito Aquino tetap berjuang; walaupun pada akhirnya dia dibunuh.
Johan Cruyff, seorang pemain sepak bola berkebangsaan Belanda yang mengaplikasikan Total Football, mengalami banyak halangan dan hambatan di lapangan. Memang susah untuk melakukannya, tetapi dia tetap setia!
Yesus sendiri mengalami banyak rintangan dan hambatan pada saat menjalankan tugasNya di dunia. Bahkan, sampai di menit-menit terakhir di atas kayu salib, Yesus mendapat godaan untuk tidak menyelesaikan tugasNya, "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya." (Matius 27:42)
"... supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus." (Yudas 1:3b) Berusaha mencapai tujuan tidaklah mudah, akan ada banyak tantangan dan hambatan yang hadir, namun tetaplah berjuang!!
"Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menururti hawa nafsu kefasikan mereka." (Yudas 1:18b) Inilah gambaran situasi yang tidak mudah untuk dijalani dan dilalui.
Yesus menghadapi beragam tantangan: dicerca, dicela, diludahi, dikhianati, disangkal -bahkan oleh orang-orang terdekatNya.
Ayat 19-20 menyarankan kita untuk:
1. beriman kepada Tuhan, mengingat pengalaman-pengalaman iman kita.
2. berdoa dalam Roh Kudus, doa senantiasa mengingatkan kita bahwa kita membutuhkan Tuhan di dalam hidup kita (senantiasa). Saat Yesus berdoa di Taman Getsemani, Yesus mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan perjuanganNya.
Dalam Minggu-Minggu Pra Paskah kita sudah diajak untuk berubah. Tentunya melakukan perubahan bukan seuah hal yang mudah, membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit. Dengan membangun iman di atas dasar yang paling suci (iman kepada Yesus Kristus), dan memiliki kesadaran untuk menghadirkan Tuhan di dalam hidup kita, jadikan Tuhan jawaban dan kunci kekuatan keberhasilan dalam setiap perjuangan kita!
Minggu, 2009 April 12
Minggu, 2009 April 05
Kita Dapat Mengubahkan Bangsa dan Negara
Pra Paskah 6
Minggu, 5 April 2009
Pk. 09.00
Dilayani oleh: Pdt. Setyahadi
Berita Anugerah:
(dengan sedikit nuansa berbeda, dibacakan oleh liturgos Michael Loekito -hari ini kebaktian 09.00 di GKI Kutisari dilayani oleh Band Remaja)
Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
-Roma 6:22-23-
Bacaan:
Markus 12:13-17
Mazmur 73:3-5, 17-19
Seorang Ronggowarsito pernah mengatakan, "Jaman iki jaman edan, yen ora melu edan ora keduman!" yang berarti, "Jaman ini adalah jaman yang gila, kalau tidak ikutan gila tidak akan kebagian!"
Dalam bacaan hari ini, dapat kita 'baca' pergumulan Pemazmur di sana. Ada saatnya pemazmur melihat banyaknya orang-orang melakukan kefasikan namun kebal terhadap hukuman. Seolah tidak ada keadilan.
Dalam kondisi seperti ini pemazmur mengalami perasaan iri hati yang sangat terhadap mereka (orang yang melakukan kefasikan), lihat ayat 3-5. Perasaan seperti ini akan semakin membuka kemungkinan untuk pemazmur terseret masuk ke dalam jerat godaan (jalan yang sesat -bukan jalan kebenaran).
Seringkali kita melakukan kebenaran hanya karena kondisi yang mengijinkan kita untuk melakukannya. Bila kondisi tidak memungkinkan, maka kita akan menyangkal jalan kebenaran itu. Jadi, seolah kita melakukan tindakan yang benar hanya berdasarkan keadaan, situasi, kondisi. Padahal, bukan seperti itu yang seharusnya!
Bukan situasi yang menentukan kita untuk bersikap benar, akan tetapi hendaklah kita bersikap benar di SEGALA situasi dan kondisi!
Kondisi bangsa dan negara kita saat ini yang sedang menjelang Pemilu diwarnai berbagai macam berita kecurangan-kecurangan dan pelanggaran-pelanggaran peraturan oleh sebagian partai. Informasi-informasi yang sampai ke telinga kita mungkin bukan sebuah suara yang merdu untuk didengar. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk membawa angin perubahan bagi bangsa ini? Sumbangsih seperti apakah yang bisa kita lakukan?
Tidak perlu memikirkan hal-hal yang muluk-muluk atau yang spektakuler. Cukup dengan memulai berjalan dalam kebenaran, akan menjadi bagian dari sumbangsih kita bagi negara ini. Menghadirkan nilai-nilai Kristiani di dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang lebih penting untuk diingat: tidak perlu menunggu orang lain melakukannya terlebih dahulu; mulailah mendahului orang lain dalam melakukan kebenaran!
Ada kalanya saat kita memiliki kemauan yang baik, kita masih dapat merasakan 'celaka' Misalnya, pada suatu saat kita melihat ada sebuah rumah yang terbakar. Salah seorang penghuni rumah masih terjebak di dalam rumah yang terbakar itu! Maka, kita bergegas masuk ke dalam rumah dan menyelamatkan penghuni tersebut! Namun, kita terluka karena kobaran api yang sangat besar. Kita mengalami luka bakar. Penghuni tersebut selamat, namun kita terluka. Niatan yang baik kadang membawa kita celaka, namun janganlah kita menghilangkan niat baik kita; jangan! Oleh karena kita sudah mengetahui tantangan dan godaan yang sedemikian besar dari niat baik, maka kita perlu terus memeliharanya dengan baik.
Buanglah iri hati yang mulai menggerogoti jauh-jauh, karena iri hati akan melemahkan diri kita. Senantiasa gunakan nilai-nilai Kristiani dalam menjalani hidup sehari-hari, sebagai panduan kita.
Hiduplah berdasarkan nilai-nilai Kristiani dan panggilan Allah dengan penuh semangat, tidak bergantung kepada situasi!
Minggu, 5 April 2009
Pk. 09.00
Dilayani oleh: Pdt. Setyahadi
Berita Anugerah:
(dengan sedikit nuansa berbeda, dibacakan oleh liturgos Michael Loekito -hari ini kebaktian 09.00 di GKI Kutisari dilayani oleh Band Remaja)
Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
-Roma 6:22-23-
Bacaan:
Markus 12:13-17
Mazmur 73:3-5, 17-19
Seorang Ronggowarsito pernah mengatakan, "Jaman iki jaman edan, yen ora melu edan ora keduman!" yang berarti, "Jaman ini adalah jaman yang gila, kalau tidak ikutan gila tidak akan kebagian!"
Dalam bacaan hari ini, dapat kita 'baca' pergumulan Pemazmur di sana. Ada saatnya pemazmur melihat banyaknya orang-orang melakukan kefasikan namun kebal terhadap hukuman. Seolah tidak ada keadilan.
Dalam kondisi seperti ini pemazmur mengalami perasaan iri hati yang sangat terhadap mereka (orang yang melakukan kefasikan), lihat ayat 3-5. Perasaan seperti ini akan semakin membuka kemungkinan untuk pemazmur terseret masuk ke dalam jerat godaan (jalan yang sesat -bukan jalan kebenaran).
Seringkali kita melakukan kebenaran hanya karena kondisi yang mengijinkan kita untuk melakukannya. Bila kondisi tidak memungkinkan, maka kita akan menyangkal jalan kebenaran itu. Jadi, seolah kita melakukan tindakan yang benar hanya berdasarkan keadaan, situasi, kondisi. Padahal, bukan seperti itu yang seharusnya!
Bukan situasi yang menentukan kita untuk bersikap benar, akan tetapi hendaklah kita bersikap benar di SEGALA situasi dan kondisi!
Kondisi bangsa dan negara kita saat ini yang sedang menjelang Pemilu diwarnai berbagai macam berita kecurangan-kecurangan dan pelanggaran-pelanggaran peraturan oleh sebagian partai. Informasi-informasi yang sampai ke telinga kita mungkin bukan sebuah suara yang merdu untuk didengar. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk membawa angin perubahan bagi bangsa ini? Sumbangsih seperti apakah yang bisa kita lakukan?
Tidak perlu memikirkan hal-hal yang muluk-muluk atau yang spektakuler. Cukup dengan memulai berjalan dalam kebenaran, akan menjadi bagian dari sumbangsih kita bagi negara ini. Menghadirkan nilai-nilai Kristiani di dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang lebih penting untuk diingat: tidak perlu menunggu orang lain melakukannya terlebih dahulu; mulailah mendahului orang lain dalam melakukan kebenaran!
Ada kalanya saat kita memiliki kemauan yang baik, kita masih dapat merasakan 'celaka' Misalnya, pada suatu saat kita melihat ada sebuah rumah yang terbakar. Salah seorang penghuni rumah masih terjebak di dalam rumah yang terbakar itu! Maka, kita bergegas masuk ke dalam rumah dan menyelamatkan penghuni tersebut! Namun, kita terluka karena kobaran api yang sangat besar. Kita mengalami luka bakar. Penghuni tersebut selamat, namun kita terluka. Niatan yang baik kadang membawa kita celaka, namun janganlah kita menghilangkan niat baik kita; jangan! Oleh karena kita sudah mengetahui tantangan dan godaan yang sedemikian besar dari niat baik, maka kita perlu terus memeliharanya dengan baik.
Buanglah iri hati yang mulai menggerogoti jauh-jauh, karena iri hati akan melemahkan diri kita. Senantiasa gunakan nilai-nilai Kristiani dalam menjalani hidup sehari-hari, sebagai panduan kita.
Hiduplah berdasarkan nilai-nilai Kristiani dan panggilan Allah dengan penuh semangat, tidak bergantung kepada situasi!
Selasa, 2009 Maret 31
Kita Dapat Mengubahkan Musuh Kita
Pra Paskah 5
Minggu, 29 Maret 2009
Pk. 09.00 WIB
Dilayani oleh: Pdt. Paulus Cahaya Purnama (GKI Gejayan)
Berita Anugerah:
Kita telah menengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
-1 Yohanes 4:16-
Bacaan:
Matius 5:43-48
"... apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?" (ayat 47)
"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu." (ayat 43) Manusia memiliki kecenderungan untuk bereaksi sesuai dengan aksi yang diterima. Menyeimbangkan aksi yang diterima dengan reaksi yang diberikan. Misalnya: bila dia baik kepada saya, maka saya juga akan baik kepada dia; namun bila dia pelit kepada saya, saya juga tidak akan memberikan pinjaman kepada dia; orang yang ramah kepada saya, akan saya balas dengan perlakuan yang ramah; dan seterusnya. Wajar kan? Inilah ukuran keadilan yang digunakan dunia. Namun bagaimana ukuran Allah?
Tuhan Yesus meminta kita untuk menjadi LEBIH dari yang BIASA:
memiliki kesabaran tanpa batas, lebih dari batas yang dimiliki orang lain pada umumnya.
LEBIH dari yang BIASA:
Teladan kasih Bapa (ayat 45);
adalah kasih yang universal (matahari dan hujan)
adalah kasih walaupun (mengasihi tidak tergantung reaksi)
adalah kasih tulus, lurus (ayat 48): meski banyak godaan, tetaplah setia
Setia: dulu, sekarang, akan datang memiliki kualitas yang sama, tetap untuk selamanya (seperti Allah).
Yesus mengampuni, mengasihi sampai terluka, menderita, sampai mati (kasih walaupun).
Beberapa hal yang menunjukkan sikap tidak mengampuni:
- tidak berubah
- tidak mengampuni saya
- tidak menjadi seperti yang saya inginkan
- menuntut
- dengan syarat
Menyembuhkan luka batin: (hanya bisa disembuhkan bila sanggup mengatakan "aku mengampuni...")
- ampuni diri sendiri
- ampuni sesama
-kasihi "musuh"
Apakah hari ini ada di antara kita yang masih sakit hati terhadap orang lain?
Sosok yang paling berpotensi melukai kita adalah orang yang dekat dengan kita, yang kita kasihi; semakin besar kasih kita kepada dia, semakin dalam luka kita dibuatnya.
Ampuni, cabut luka batin, bila perlu sampai mati, sama seperti yang Yesus sudah lakukan lebih dulu kepada kita.
Yesus, spesialisasi menyatukan! Penyambung yang cerai berai!
- hubungan manusia - Tuhan, sesama, alam
- hubungan yang rusak, perbedaan disatukan!
Kasih sejati, lurusm setia (ayat 48):
- konsep benar
- tujuan benar
- proses benar
- etika benar
- ucapan benar
- vs hambatan
- vs ditolak
William Booth: cinta seseorang dapat dilihat dari pengorbanannya.
Mengampuni hingga terluka, bahkan sampai mati!
Kasihi musuhmu, doakan...
Kasih Yesus tidak pernah berhenti, mengalir memberikan kekuatan untuk mengasihi mereka yang menyakiti kita.
SENTUH HATIKU
Jason
BETAPA KUMENCINTAI
SEGALA YANG T'LAH TERJADI
TAK PERNAH SENDIRI JALANI HIDUP INI
SELALU MENYERTAI BETAPA KUMENYADARI
DI DALAM HIDUPKU INI
KAU SLALU MEMBERI RANCANGAN TERBAIK
OLEH KARENA KASIH
BAPA, SENTUH HATIKU
UBAH HIDUPKU MENJADI YANG BARU
BAGAI EMAS YANG MURNI
KAU MEMBENTUK BEJANA HATIKU
BAPA, AJARKU MENGERTI
SEBUAH KASIH YANG SELALU MEMBERI
BAGAI AIR MENGALIR
YANG TIADA PERNAH BERHENTI
Minggu, 29 Maret 2009
Pk. 09.00 WIB
Dilayani oleh: Pdt. Paulus Cahaya Purnama (GKI Gejayan)
Berita Anugerah:
Kita telah menengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
-1 Yohanes 4:16-
Bacaan:
Matius 5:43-48
"... apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?" (ayat 47)
"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu." (ayat 43) Manusia memiliki kecenderungan untuk bereaksi sesuai dengan aksi yang diterima. Menyeimbangkan aksi yang diterima dengan reaksi yang diberikan. Misalnya: bila dia baik kepada saya, maka saya juga akan baik kepada dia; namun bila dia pelit kepada saya, saya juga tidak akan memberikan pinjaman kepada dia; orang yang ramah kepada saya, akan saya balas dengan perlakuan yang ramah; dan seterusnya. Wajar kan? Inilah ukuran keadilan yang digunakan dunia. Namun bagaimana ukuran Allah?
Tuhan Yesus meminta kita untuk menjadi LEBIH dari yang BIASA:
memiliki kesabaran tanpa batas, lebih dari batas yang dimiliki orang lain pada umumnya.
LEBIH dari yang BIASA:
Teladan kasih Bapa (ayat 45);
adalah kasih yang universal (matahari dan hujan)
adalah kasih walaupun (mengasihi tidak tergantung reaksi)
adalah kasih tulus, lurus (ayat 48): meski banyak godaan, tetaplah setia
Setia: dulu, sekarang, akan datang memiliki kualitas yang sama, tetap untuk selamanya (seperti Allah).
Yesus mengampuni, mengasihi sampai terluka, menderita, sampai mati (kasih walaupun).
Beberapa hal yang menunjukkan sikap tidak mengampuni:
- tidak berubah
- tidak mengampuni saya
- tidak menjadi seperti yang saya inginkan
- menuntut
- dengan syarat
Menyembuhkan luka batin: (hanya bisa disembuhkan bila sanggup mengatakan "aku mengampuni...")
- ampuni diri sendiri
- ampuni sesama
-kasihi "musuh"
Apakah hari ini ada di antara kita yang masih sakit hati terhadap orang lain?
Sosok yang paling berpotensi melukai kita adalah orang yang dekat dengan kita, yang kita kasihi; semakin besar kasih kita kepada dia, semakin dalam luka kita dibuatnya.
Ampuni, cabut luka batin, bila perlu sampai mati, sama seperti yang Yesus sudah lakukan lebih dulu kepada kita.
Yesus, spesialisasi menyatukan! Penyambung yang cerai berai!
- hubungan manusia - Tuhan, sesama, alam
- hubungan yang rusak, perbedaan disatukan!
Kasih sejati, lurusm setia (ayat 48):
- konsep benar
- tujuan benar
- proses benar
- etika benar
- ucapan benar
- vs hambatan
- vs ditolak
William Booth: cinta seseorang dapat dilihat dari pengorbanannya.
Mengampuni hingga terluka, bahkan sampai mati!
Kasihi musuhmu, doakan...
Kasih Yesus tidak pernah berhenti, mengalir memberikan kekuatan untuk mengasihi mereka yang menyakiti kita.
SENTUH HATIKU
Jason
BETAPA KUMENCINTAI
SEGALA YANG T'LAH TERJADI
TAK PERNAH SENDIRI JALANI HIDUP INI
SELALU MENYERTAI BETAPA KUMENYADARI
DI DALAM HIDUPKU INI
KAU SLALU MEMBERI RANCANGAN TERBAIK
OLEH KARENA KASIH
BAPA, SENTUH HATIKU
UBAH HIDUPKU MENJADI YANG BARU
BAGAI EMAS YANG MURNI
KAU MEMBENTUK BEJANA HATIKU
BAPA, AJARKU MENGERTI
SEBUAH KASIH YANG SELALU MEMBERI
BAGAI AIR MENGALIR
YANG TIADA PERNAH BERHENTI
Minggu, 2009 Maret 22
Kita Dapat Mengubahkan Alam
* klip versi panjang (complete version), sedikit berbeda dengan yang ditampilkan dalam Kebaktian Minggu, 22 Maret 2009
Pra Paskah 4
Minggu, 22 Maret 2009
Pk. 07.00
Dilayani oleh: Pdt. Setyahadi
Ayat Pembuka:
Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya
-Mazmur 19:2-
Berita Anugerah:
Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setiaMu,
sebab Engkau telah menilik sengsaraku,
telah memperhatikan kesesakan jiwaku
-Mazmur 31:8-
Bacaan:
Kejadian 1:27-28
Kejadian 2:15
Matius 6:28
BERITA CUACA - Gombloh
Lestari alamku lestari desaku
Dimana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa
Damai saudaraku suburlah bumiku
Kuingat ibuku dongengkan cerita
Kisah tentang jaya nusantara lama
Tentram kerta raharja di sana
Mengapa tanahku rawan kini
Bukit-bukitpun telanjang berdiri
Pohon dan rumput-rumput
Enggan bersemi kembali
Dan burung-burung malu bernyanyi
Kuingin bukitku hijau kembali
Semak rumputpun tak sabar menanti
Doa kan kuucapkan hari demi hari
Sampai kapankah hati lapang diri
Lestari alamku lestari desaku
Dimana Tuhanku menitipkan aku
Kami kan bernyanyi hibur lara hati
Nyanyikan bait padamu negeri
Beberapa waktu yang lalu, dalam harian KOMPAS dinyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang kritis kondisi buminya. Pada saat musim penghujan, banjir melanda. Pada saat musim kemarau, tanah menjadi sangat kering dan pecah. Inikah gambaran negri yang Tuhan ciptakan dengan begitu penuh pesona?
Seseorang yang menyukai pendakian gunung, kerap kali disebut sebagai seorang pecinta alam. Dan memang demikian pada umunya. Seorang pendaki gunung adalah seorang pecinta alam. Yesus adalah seorang yang suka mendaki bukit. Yesus familiar dengan gunung/bukit. Yesus menyampaikan kotbah tentang Ucapan Bahagia di bukit, sehingga disebut sebagai Kotbah di Bukit. Yesus dimuliakan di atas gunung. Yesus akan terangkat ke surga juga berada di sebuah bukit. Yesus disalibkan di Bukit Kalvari.
Bukit (pada masa itu) menjadi sebuah simbolisasi tempat perlindungan Allah. Yesus akrab dengannya, menunjukkan secara implisit tentang kecintaan Yesus kepada alam. Yesus mengajar. Yesus berkotbah. Yesus menggunakan berbagai ilustrasi dari alam: kebun anggur, bunga, rumput, burung, dan lain-lain. Yesus adalah sosok yang peduli dengan semesta alam.
Yesus mengenal dengan baik kondisi alam. Yesus berkotbah di hadapan ribuan orang tanpa pengeras suara! Dengan memanfaatkan struktur alam, arah hembusan angin, kotbah yang Yesus sampaikan dapat didengar oleh ribuan pendengar!
Kejadian 1:28 mencatat, "... penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan..." yang bisa diartikan sebagai:
1. Manusia adalah ciptaan Allah tertinggi. Tidak ada ciptaan lain yang manusia perlu takuti, tunduk atau bahkan sembah! Namun ingat; jangan disalahartikan sebagai ijin untuk melakukan eksploitasi besar-besaran, pemanfaatan sumber daya alam hingga habis-habisan. Bukan itu! Lihat juga Kejadian 2:15, "... untuk mengusahakan dan memelihara taman itu..." Jadi, tetap ada keseimbangan antara pemanfaatan dan pemeliharaan.
2. Manusia adalah mandataris Allah. Manusia mempunyai kuasa, namun kepada Allah juga manusia harus mempertanggungjawabakan semuanya kepada Allah.
Kuasa yang Allah percayakan kepada manusia (kita) adalah kuasa untuk memperlakukan alam sama seperti dengan cara Allah memperlakukan alam (lihat lagi Kejadian 1:28 dan Kejadian 2:15).
Tanggung jawab manusia terhadap alam, tidak melulu hanya berada di tangan orang-orang yang 'berkuasa' yang punya andil dalam pengekspliotasian alam (secara besar-besaran); tetapi kita juga! Satu lembar plastik kresek yang dibuang begitu saja (apalagi dibuang sembarangan!) akan memberikan sumbangsih untuk kerusakan alam yang makin parah.
Para ahli menyatakan, akibat pemanasan global yang makin meningkat, suhu di kutub mengalami peningkatan yang berakibat mencairnya es yang berada di sana. Dalam 30 tahun ke depan, diperkirakan akan lebih banyak lagi pulau-pulau yang akan menghilang dari daratan dan terendam air. Pulau Jawa akan menjadi salah satu pulau yang terendam!
Panggilan untuk mengubahkan alam/bumi tidak perlu menunggu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang besar. Mulailah dari hal-hal yang kecil, misalnya: berbagi kendaraan dengan teman, mengantar-jemput sekolah anak-anak bergantian dengan tetangga (mengurangi jumlah kendaraan yang beroperasi di jalan); yang berarti selain menghemat pengeluaran, kita juga sudah menekan sumbangsih zat polutan di udara.
Selamat melakukan karya-karya 'kecil' yang berdampak pada karya penyelamatan bumi!
Minggu, 2009 Maret 15
Kita Dapat Mengubahkan Mereka yang Berdosa
Pra Paskah 3
Minggu, 15 Maret 2009
Pk. 07.00 WIB
Dilayani oleh: Pdt. Budimoeljono Reksosoesilo
Berita Anugerah:
"Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih,
sebuah batu penjuru yang mahal,
dan siapa yang percaya kepadaNya,
tidak akan dipermalukan."
-1 Petrus 2:6-
Bacaan:
Lukas 19:1-10
Pada suatu jam makan siang, Anda yang sudah kelaparan sedang mencari rumah makan untuk menyantap makan siang di sana. Lantas, Anda melihat sebuah restoran yang belum pernah Anda masuki. Seseorang yang tidak Anda kenal berada tak jauh dari restoran itu berkata, "Jangan makan di restoran itu, masakannya tidak enak!" Bisa jadi, Anda akan percaya omongan orang itu. Bisa jadi, Anda tidak percaya dan berhubung perut sudah keroncongan, Anda nekat masuk ke restoran itu. Namun, lain halnya bila sang koki yang muncul dari pintu restoran itu dan berkata kepada Anda, "Jangan makan di retsoran ini! Masakannya tidak enak!" Bisa jadi, Anda akan langsung percaya dan segera mencari tempat makan yang lain.
Kadang demikian pula yang terjadi dengan gereja. Saat orang yang bukan Kristen (tidak pernah masuk ke gereja) berkata, "Jangan ke gereja itu..." maka kemungkinan orang yang mengikuti sarannya tidak banyak. Sementara bila seorang Kristen (yang sudah pernah masuk gereja) berkata, "Jangan ke gereja itu..." dan diikuti dengan berbagai argumen, maka kemungkinan orang mengikuti sarannya lebih besar dan lebih banyak.
Jadi, seorang Kristen lebih efektif menghambat orang lain masuk ke gereja bila dibandingkan dengan orang yang bukan Kristen. Logis kan?
Pertanyaan yang perlu direnungkan, apakah Anda termasuk orang Kristen yang menghalangi orang lain masuk ke gereja?
Untuk melengkapi bacaan kita, baca juga Lukas 18. Dari perikop per perikop di Lukas 18, di sana tertulis mengenai pengajaran-pengajaran dari Yesus kepada orang banyak yang mengikutiNya. Dua kali kejadian yang tercatat dalam Lukas 18 mengenai mereka yang menghalangi orang untuk datang kepada Yesus.
Perikop Yesus memberkati anak-anak, "Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang yang kecil kepada Yesus, supaya itu Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu." (ayat 15) Dan bagaimana Yesus menanggapi sikap seperti ini? "Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka..." (ayat 16).
Perikop Yesus menyembuhkan seorang buta dekat Yerikho, "Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya diam." (ayat 39) "Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepadaNya." (ayat 40a) Perhatikan pula ayat 43b, "...lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah..."
Tidak sampai lebih dari 2 hari, orang banyak itu melakukan hal yang sama. Menghalang-halangi. Perhatikan Lukas 19:3 "...tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak..." ditambah lagi ayat 7, "...semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut..." Dan yang perlu diingat, di antara orang banyak itu ada orang buta yang Yesus sudah sembuhkan (baca lagi Lukas 18:43). Namun, apa yang orang buta itu lakukan? Mungkin dia ikut-ikutan bersungut-sungut dengan orang banyak, mungkin pula dia sudah berusaha berbuat sesuatu namun tidak membawa hasil yang berarti. Kalangan minoritas yang jarang didengar pendapatnya.
Setelah sekian lama Anda menjadi seorang Kristen, berapa banyak Anda sudah mendengar kotbah? Dan yang lebih penting lagi, apakah kehidupan Anda mengalami perubahan setelahnya? Seberapa Anda sudah mengalami purification (pemurnian)?
Apakah Anda menjadi salah seorang Kristen yang menjadi penghalang buat orang lain datang kepada Yesus?
Baiklah kita menjadi orang Kristen yang tak hanya mendengar kotbah saja, tapi bisa memiliki integritas dan berkualitas: mendengarkan firman Tuhan sekaligus menjadi penghubung orang-orang berdosa yang ingin datang kepada Tuhan. Kiranya Tuhan yang memberkati dan menyempurnakan!
Minggu, 15 Maret 2009
Pk. 07.00 WIB
Dilayani oleh: Pdt. Budimoeljono Reksosoesilo
Berita Anugerah:
"Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih,
sebuah batu penjuru yang mahal,
dan siapa yang percaya kepadaNya,
tidak akan dipermalukan."
-1 Petrus 2:6-
Bacaan:
Lukas 19:1-10
Pada suatu jam makan siang, Anda yang sudah kelaparan sedang mencari rumah makan untuk menyantap makan siang di sana. Lantas, Anda melihat sebuah restoran yang belum pernah Anda masuki. Seseorang yang tidak Anda kenal berada tak jauh dari restoran itu berkata, "Jangan makan di restoran itu, masakannya tidak enak!" Bisa jadi, Anda akan percaya omongan orang itu. Bisa jadi, Anda tidak percaya dan berhubung perut sudah keroncongan, Anda nekat masuk ke restoran itu. Namun, lain halnya bila sang koki yang muncul dari pintu restoran itu dan berkata kepada Anda, "Jangan makan di retsoran ini! Masakannya tidak enak!" Bisa jadi, Anda akan langsung percaya dan segera mencari tempat makan yang lain.
Kadang demikian pula yang terjadi dengan gereja. Saat orang yang bukan Kristen (tidak pernah masuk ke gereja) berkata, "Jangan ke gereja itu..." maka kemungkinan orang yang mengikuti sarannya tidak banyak. Sementara bila seorang Kristen (yang sudah pernah masuk gereja) berkata, "Jangan ke gereja itu..." dan diikuti dengan berbagai argumen, maka kemungkinan orang mengikuti sarannya lebih besar dan lebih banyak.
Jadi, seorang Kristen lebih efektif menghambat orang lain masuk ke gereja bila dibandingkan dengan orang yang bukan Kristen. Logis kan?
Pertanyaan yang perlu direnungkan, apakah Anda termasuk orang Kristen yang menghalangi orang lain masuk ke gereja?
Untuk melengkapi bacaan kita, baca juga Lukas 18. Dari perikop per perikop di Lukas 18, di sana tertulis mengenai pengajaran-pengajaran dari Yesus kepada orang banyak yang mengikutiNya. Dua kali kejadian yang tercatat dalam Lukas 18 mengenai mereka yang menghalangi orang untuk datang kepada Yesus.
Perikop Yesus memberkati anak-anak, "Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang yang kecil kepada Yesus, supaya itu Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu." (ayat 15) Dan bagaimana Yesus menanggapi sikap seperti ini? "Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka..." (ayat 16).
Perikop Yesus menyembuhkan seorang buta dekat Yerikho, "Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya diam." (ayat 39) "Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepadaNya." (ayat 40a) Perhatikan pula ayat 43b, "...lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah..."
Tidak sampai lebih dari 2 hari, orang banyak itu melakukan hal yang sama. Menghalang-halangi. Perhatikan Lukas 19:3 "...tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak..." ditambah lagi ayat 7, "...semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut..." Dan yang perlu diingat, di antara orang banyak itu ada orang buta yang Yesus sudah sembuhkan (baca lagi Lukas 18:43). Namun, apa yang orang buta itu lakukan? Mungkin dia ikut-ikutan bersungut-sungut dengan orang banyak, mungkin pula dia sudah berusaha berbuat sesuatu namun tidak membawa hasil yang berarti. Kalangan minoritas yang jarang didengar pendapatnya.
Setelah sekian lama Anda menjadi seorang Kristen, berapa banyak Anda sudah mendengar kotbah? Dan yang lebih penting lagi, apakah kehidupan Anda mengalami perubahan setelahnya? Seberapa Anda sudah mengalami purification (pemurnian)?
Apakah Anda menjadi salah seorang Kristen yang menjadi penghalang buat orang lain datang kepada Yesus?
Baiklah kita menjadi orang Kristen yang tak hanya mendengar kotbah saja, tapi bisa memiliki integritas dan berkualitas: mendengarkan firman Tuhan sekaligus menjadi penghubung orang-orang berdosa yang ingin datang kepada Tuhan. Kiranya Tuhan yang memberkati dan menyempurnakan!
Senin, 2009 Maret 09
Kita Dapat Mengubahkan Mereka yang Dalam Krisis
Pra Paskah 2
Kebaktian pk. 17.00 WIB
Dilayani oleh: Pdt. Djoko Sugiarto
Berita Anugerah:
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir.
-1 Petrus 1:18-20-
Bacaan:
Lukas 9:10-18
Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Kamu harus memberi mereka makan!" Mereka menjawab: "Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini." (ayat 13)
Perkataan Yesus "Kamu harus memberi mereka makan!" bisa jadi mengakibatkan respon dari para murid: "Masa Kau tidak tahu, kami tidak punya uang?!" atau "Masa Kau tidak tahum kami tidak punya makanan?!"
"Saya tidak tahu harus berbuat apa, saya tidak sanggup lagi dibebani persoalan seperti ini. Lebih baik saya pergi, meninggalkan semua ini, saya biarkan Yesus yang menangani masalah tersebut." Mungkin demikianlah sikap kita saat kita tak melihat ada jalan keluar terhadap masalah yang kita hadapi -dan saat pertolongan Tuhan belum menampakkan perubahan.
Tim Misi GKI Manyar melakukan perjalanan misi ke sebuah pegunungan. Di sana mereka menemukan sebuah desa yang telah lama mengalami kekeringan. Gersang dan tandus. Tidak ada air. Para penduduknya sebagian besar adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut. Untuk mendapatkan air, mereka harus berjalan turun ke bawah ke sungai, menampung air sungai ke dalam ember yang mereka miliki, kemudian membawanya kembali ke atas. Perjalanan yang terjal dan jalanan yang tidak mulus menjadikan air di dalam ember yang mereka bawa bercipratan keluar sehingga setibanya mereka ke rumah mereka, air di dalam ember pun sudah berkurang. Belum lagi bila ember yang mereka bawa terjatuh atau tali pengikatnya putus, maka habis sudah air yang ada di dalamnya.
Saat Tim Misi GKI Manyar tiba di desa tersebut, salah seorang penduduknya, seorang ibu yang sudah tua, meminta kepada Tim Misi GKI Manyar menyediakan sumber air. Sambil meminta demikian, si ibu ini memberikan selembar uang senilai Rp 5.000,- kepada salah seorang anggota Tim Misi tersebut. Kebingungan terhadap permintaan si ibu dan bagaimana mungkin selembar uang lima ribu rupiah dapat menyediakan sumber air?! Untuk biaya membawa seorang tukang dari Surabaya menuju ke desa tersebut tidak mungkin!!
Akhirnya, seorang anggota jemaat yang ahli mencari air pun dihubungi dan bersedia untuk melakukan penelitian mencari sumber air. Lewat penelitian satelit yang sudah dilakukannya, ditemukan ada sumber air yang terletak 30 meter di bawah tanah dan di bawah batu cadas! Si ahli pencari air ini bersedia untuk berangkat ke sana untuk mengawasi jalannya pengeboran. Satu pertolongan lagi dari ITS yang bersedia meminjamkan peralatan-peralatan berat modern yang akan sangat membantu proses pengeboran.
Pengeboran pun dimulai. Baru mengebor sedalam 1 meter, mata bor yang digunakan patah! Padahal harga sebuah mata bor tidaklah murah. Satu mata bor bernilai dua setengah juta rupiah! Pengeboran dilanjutkan dan mata bor kedua patah di kedalaman 7 meter! Akhirnya sebelum pengeboran dilanjutkan, seluruh penduduk setempat diminta untuk bersama-sama berdoa dan bernyanyi meminta pertolongan Tuhan dalam proses pengeboran ini. Kemudian, pengeboran dilanjutkan.
Hari keempat, kelima, keenam dan... hari ketujuh, akhirnya sebuah kabar menyatakan pengeboran telah sampai ke kedalaman 30 meter! Dan... airnya keluar. Sumber air telah ditemukan. 20 liter air memancar keluar dalam waktu 1 detik!! Bupati daerah tersebut merasa heran. "Kami tidak pernah mengira Tuhan masih bekerja pada jaman seperti ini. Uang sebesar 1 miliar rupiah yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk mencari sumber air, mengebor di sana sini, berusaha membuat sumur, tetap saja tidak ada hasil. Daerah sini tetap saja gersang dan tandus. Berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan sumber air ini?" Lima ribu rupiah, sisanya Tuhan yang menyediakan!
Setelah sumber air ditemukan, daerah tersebut mengalami perubahan yang besar. Hasil pertanian dan perkebunan yang bagus-bagus, para penduduk mulai bisa memiliki ternak, jumlah penduduk yang meningkat, bahkan penduduk setempat tidak perlu pergi untuk menjual hasil tani dan kebun mereka, orang-orang sekitar yang datang untuk berbelanja di sana! Dari lima ribu rupiah yang -tampak- tidak mungkin, Tuhan menjadikan yang kecil menjadi besar!
"Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, dan memecah-mecahkannya kepada murid-muridNya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak." (ayat 16)
Dari hal yang kecil (lima roti dan dua ikan), hal yang seolah tidak ada artinya, namun bila dibawa kepada Tuhan akan menjadi hal yang besar (mengenyangkan lima ribu orang dan lebih!). Dalam masa-masa seperti sekarang ini (khususnya dalam krisis), banyak perusahaan yang melakukan perampingan tenaga kerja, perusahaan tutup, semua jenis usaha banyak yang mengalami kemerosotan penghasilan, tabungan yang kits miliki pun lama-kelamaan akan habis. Namun, satu hal yang kita miliki yang tak akan pernah habis. Talenta yang Tuhan berikan untuk kita kelola -tidak akan pernah habis.
Dengan talenta yang kita miliki, marilah kita berusaha menciptakan lapangan kerja untuk kita sendiri dan juga untuk orang lain. Jadikanlah hal yang kecil untuk menjadi berkat bagi orang banyak, yaitu dengan membawanya kepada Tuhan untuk diubahkan olehNya.
Kebaktian pk. 17.00 WIB
Dilayani oleh: Pdt. Djoko Sugiarto
Berita Anugerah:
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir.
-1 Petrus 1:18-20-
Bacaan:
Lukas 9:10-18
Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Kamu harus memberi mereka makan!" Mereka menjawab: "Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini." (ayat 13)
Perkataan Yesus "Kamu harus memberi mereka makan!" bisa jadi mengakibatkan respon dari para murid: "Masa Kau tidak tahu, kami tidak punya uang?!" atau "Masa Kau tidak tahum kami tidak punya makanan?!"
"Saya tidak tahu harus berbuat apa, saya tidak sanggup lagi dibebani persoalan seperti ini. Lebih baik saya pergi, meninggalkan semua ini, saya biarkan Yesus yang menangani masalah tersebut." Mungkin demikianlah sikap kita saat kita tak melihat ada jalan keluar terhadap masalah yang kita hadapi -dan saat pertolongan Tuhan belum menampakkan perubahan.
Tim Misi GKI Manyar melakukan perjalanan misi ke sebuah pegunungan. Di sana mereka menemukan sebuah desa yang telah lama mengalami kekeringan. Gersang dan tandus. Tidak ada air. Para penduduknya sebagian besar adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut. Untuk mendapatkan air, mereka harus berjalan turun ke bawah ke sungai, menampung air sungai ke dalam ember yang mereka miliki, kemudian membawanya kembali ke atas. Perjalanan yang terjal dan jalanan yang tidak mulus menjadikan air di dalam ember yang mereka bawa bercipratan keluar sehingga setibanya mereka ke rumah mereka, air di dalam ember pun sudah berkurang. Belum lagi bila ember yang mereka bawa terjatuh atau tali pengikatnya putus, maka habis sudah air yang ada di dalamnya.
Saat Tim Misi GKI Manyar tiba di desa tersebut, salah seorang penduduknya, seorang ibu yang sudah tua, meminta kepada Tim Misi GKI Manyar menyediakan sumber air. Sambil meminta demikian, si ibu ini memberikan selembar uang senilai Rp 5.000,- kepada salah seorang anggota Tim Misi tersebut. Kebingungan terhadap permintaan si ibu dan bagaimana mungkin selembar uang lima ribu rupiah dapat menyediakan sumber air?! Untuk biaya membawa seorang tukang dari Surabaya menuju ke desa tersebut tidak mungkin!!
Akhirnya, seorang anggota jemaat yang ahli mencari air pun dihubungi dan bersedia untuk melakukan penelitian mencari sumber air. Lewat penelitian satelit yang sudah dilakukannya, ditemukan ada sumber air yang terletak 30 meter di bawah tanah dan di bawah batu cadas! Si ahli pencari air ini bersedia untuk berangkat ke sana untuk mengawasi jalannya pengeboran. Satu pertolongan lagi dari ITS yang bersedia meminjamkan peralatan-peralatan berat modern yang akan sangat membantu proses pengeboran.
Pengeboran pun dimulai. Baru mengebor sedalam 1 meter, mata bor yang digunakan patah! Padahal harga sebuah mata bor tidaklah murah. Satu mata bor bernilai dua setengah juta rupiah! Pengeboran dilanjutkan dan mata bor kedua patah di kedalaman 7 meter! Akhirnya sebelum pengeboran dilanjutkan, seluruh penduduk setempat diminta untuk bersama-sama berdoa dan bernyanyi meminta pertolongan Tuhan dalam proses pengeboran ini. Kemudian, pengeboran dilanjutkan.
Hari keempat, kelima, keenam dan... hari ketujuh, akhirnya sebuah kabar menyatakan pengeboran telah sampai ke kedalaman 30 meter! Dan... airnya keluar. Sumber air telah ditemukan. 20 liter air memancar keluar dalam waktu 1 detik!! Bupati daerah tersebut merasa heran. "Kami tidak pernah mengira Tuhan masih bekerja pada jaman seperti ini. Uang sebesar 1 miliar rupiah yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk mencari sumber air, mengebor di sana sini, berusaha membuat sumur, tetap saja tidak ada hasil. Daerah sini tetap saja gersang dan tandus. Berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan sumber air ini?" Lima ribu rupiah, sisanya Tuhan yang menyediakan!
Setelah sumber air ditemukan, daerah tersebut mengalami perubahan yang besar. Hasil pertanian dan perkebunan yang bagus-bagus, para penduduk mulai bisa memiliki ternak, jumlah penduduk yang meningkat, bahkan penduduk setempat tidak perlu pergi untuk menjual hasil tani dan kebun mereka, orang-orang sekitar yang datang untuk berbelanja di sana! Dari lima ribu rupiah yang -tampak- tidak mungkin, Tuhan menjadikan yang kecil menjadi besar!
"Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, dan memecah-mecahkannya kepada murid-muridNya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak." (ayat 16)
Dari hal yang kecil (lima roti dan dua ikan), hal yang seolah tidak ada artinya, namun bila dibawa kepada Tuhan akan menjadi hal yang besar (mengenyangkan lima ribu orang dan lebih!). Dalam masa-masa seperti sekarang ini (khususnya dalam krisis), banyak perusahaan yang melakukan perampingan tenaga kerja, perusahaan tutup, semua jenis usaha banyak yang mengalami kemerosotan penghasilan, tabungan yang kits miliki pun lama-kelamaan akan habis. Namun, satu hal yang kita miliki yang tak akan pernah habis. Talenta yang Tuhan berikan untuk kita kelola -tidak akan pernah habis.
Dengan talenta yang kita miliki, marilah kita berusaha menciptakan lapangan kerja untuk kita sendiri dan juga untuk orang lain. Jadikanlah hal yang kecil untuk menjadi berkat bagi orang banyak, yaitu dengan membawanya kepada Tuhan untuk diubahkan olehNya.
Minggu, 2009 Maret 01
Kita dapat Mengubahkan Keluarga
Minggu Pra Paskah 1
1 Maret 2009 pk. 09.00 WIB
Dilayani oleh: Pdt. Setyahadi
Berita Anugerah:
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
1 Yohanes 4:7-9
WHY WAIT!!!
Kenapa Harus Menunggu!!!
Pada awal hari-hari memulai kerjanya, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama saat memasuki salah satu ruangan di White House, melihat ada bercak kotor pada salah satu dindingnya. Spontan, Sang Presiden mengambil peralatan untuk membuat dinding tersebut bersih. Maka segenap pengawalnya pun berebut untuk mengerjakan apa yang Presiden lakukan, "Bapak Presiden, biarkan kami yang mengerjakannya saja..." begitulah kira-kira yang mereka katakan. Namun Sang Presiden menjawab, "Mengapa harus menunggu kalian yang mengerjakannya, kalau saya pun bisa melakukannya?" Maka, Presiden Barack Obama mendapatkan pujian yang setinggi langit. Mendengar pujian-pujian tersebut, Presiden menanggapi, "Jangan berlebihan, yang saya lakukan adalah hal yang sederhana, kamu pun bisa melakukannya."
Di sinilah tampak dengan jelas figur seorang pemimpin yang "melayani terlebih dahulu sebelum dilayani".
Bacaan:
Lukas 9:57-62
Perjalanan yang Yesus tempuh (yang tertulis dalam bacaan hari ini) merupakan perjalanan terakhir menuju ke Yerusalem (sebelum Yesus disalibkan). Dalam perjalanan ini, Yesus bertemu dengan tiga orang calon pengikutNya.
Orang pertama datang kepadaNya dengan sukarela, tidak dipaksa, tidak juga dipanggil (ayat 57). Mungkin dia sudah mengikut Yesus sekian lama, melihat dan mendengar banyak hal yang Yesus lakukan. Mungkin juga di dalam hatinya, dia sudah mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, yang layak untuk diikuti, maka jadilah dia mengajukan diri untuk menjadi pengikutNya. Siapakah sebenarnya orang ini? Dalam Matius 8:19-22, ditulis bahwa dia adalah seorang ahli taurat.
Di masa-masa yang semakin mendekati akhir hidup Yesus, kondisi sudah semakin tidak mengenakkan, terutama bila seorang ahli taurat mengambil sikap untuk mengikut Yesus, sementara 'rekan-rekan' sesama ahli taurat mengambil sikap sebaliknya! Namun, orang ini tetap menyatakan kesediaannya untuk mengikut Yesus.
Ditambah lagi, sikap Yesus dalam menanggapi pernyataan dirinya, bukan sikap yang menawarkan kenyamanan dan ketenangan, malahan tawaran hidup tidak nyaman dan pergumulan setiap hari yang musti dihadapi. Yesus menyatakan konsekuensi-konsekuensi yang musti dihadapi apabila menjadi pengikutNya.
"Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." (ayat 57b)
Akankah dirimu sanggup mengikut Aku berada di jalan salib?
HidupKu adalah hidup yang tidak menjanjikan berkat melulu, bukan hidup yang dipenuhi iming-iming, namun hidup yang hanya karena arti yang diberikan oleh BapaKu.
Demikian kira-kira Yesus menjelaskan.
Mengikut Yesus, bermodalkan semangat saja tidak cukup. Ada harga yang musti dibayar. Ada konsekuensi yang musti dipahami dan dijalani. Tidak melulu parade kemenangan saja yang menghiasi hidup, tapi juga ada parade pergumulan hidup.
Saat Yesus memutuskan untuk makan dengan orang berdosa, Yesus menerima olok-olok. Yesus dicela. Namun, berlandaskan kasih Allah Bapa, Yesus ingin berusaha mengeluarkan kaki orang-orang berdosa yang terperosok ke dalam lumpur itu dan meletakkan mereka di atas jalan berbatu, kembali ke jalan yang benar (Lukas 19).
Demikian juga bila kita ingin mengubahkan anggota keluarga kita, dimulai dari semangat mengasihi mereka yang sesat karena Allah mengasihi mereka, dengan tidak melupakan konsekuensi yang ada (tantangan, hambatan yang bisa berupa cemoohan, disalah mengerti dan lain-lain), serta kesediaan untuk membayar harga; bayar lunas sebagai konsekuensi mengasihi orang tersebut (ingat: Yesus menempuh via dolorosa sebagai konsekuensi mengasihi manusia).
Dalam Minggu Pra Paskah ini, marilah kita melakukan tindakan yang sekarang juga bisa kita lakukan: mendoakan anggota keluarga yang masih 'tersesat', atau mengadakan ibadah keluarga bersama. Formulasi doa dan liturgi ibadah bisa diperoleh di awal/akhir kebaktian Minggu, 1 Maret 2009 di GKI Kutisari Indah.
1 Maret 2009 pk. 09.00 WIB
Dilayani oleh: Pdt. Setyahadi
Berita Anugerah:
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
1 Yohanes 4:7-9
WHY WAIT!!!
Kenapa Harus Menunggu!!!
Pada awal hari-hari memulai kerjanya, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama saat memasuki salah satu ruangan di White House, melihat ada bercak kotor pada salah satu dindingnya. Spontan, Sang Presiden mengambil peralatan untuk membuat dinding tersebut bersih. Maka segenap pengawalnya pun berebut untuk mengerjakan apa yang Presiden lakukan, "Bapak Presiden, biarkan kami yang mengerjakannya saja..." begitulah kira-kira yang mereka katakan. Namun Sang Presiden menjawab, "Mengapa harus menunggu kalian yang mengerjakannya, kalau saya pun bisa melakukannya?" Maka, Presiden Barack Obama mendapatkan pujian yang setinggi langit. Mendengar pujian-pujian tersebut, Presiden menanggapi, "Jangan berlebihan, yang saya lakukan adalah hal yang sederhana, kamu pun bisa melakukannya."
Di sinilah tampak dengan jelas figur seorang pemimpin yang "melayani terlebih dahulu sebelum dilayani".
Bacaan:
Lukas 9:57-62
Perjalanan yang Yesus tempuh (yang tertulis dalam bacaan hari ini) merupakan perjalanan terakhir menuju ke Yerusalem (sebelum Yesus disalibkan). Dalam perjalanan ini, Yesus bertemu dengan tiga orang calon pengikutNya.
Orang pertama datang kepadaNya dengan sukarela, tidak dipaksa, tidak juga dipanggil (ayat 57). Mungkin dia sudah mengikut Yesus sekian lama, melihat dan mendengar banyak hal yang Yesus lakukan. Mungkin juga di dalam hatinya, dia sudah mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, yang layak untuk diikuti, maka jadilah dia mengajukan diri untuk menjadi pengikutNya. Siapakah sebenarnya orang ini? Dalam Matius 8:19-22, ditulis bahwa dia adalah seorang ahli taurat.
Di masa-masa yang semakin mendekati akhir hidup Yesus, kondisi sudah semakin tidak mengenakkan, terutama bila seorang ahli taurat mengambil sikap untuk mengikut Yesus, sementara 'rekan-rekan' sesama ahli taurat mengambil sikap sebaliknya! Namun, orang ini tetap menyatakan kesediaannya untuk mengikut Yesus.
Ditambah lagi, sikap Yesus dalam menanggapi pernyataan dirinya, bukan sikap yang menawarkan kenyamanan dan ketenangan, malahan tawaran hidup tidak nyaman dan pergumulan setiap hari yang musti dihadapi. Yesus menyatakan konsekuensi-konsekuensi yang musti dihadapi apabila menjadi pengikutNya.
"Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." (ayat 57b)
Akankah dirimu sanggup mengikut Aku berada di jalan salib?
HidupKu adalah hidup yang tidak menjanjikan berkat melulu, bukan hidup yang dipenuhi iming-iming, namun hidup yang hanya karena arti yang diberikan oleh BapaKu.
Demikian kira-kira Yesus menjelaskan.
Mengikut Yesus, bermodalkan semangat saja tidak cukup. Ada harga yang musti dibayar. Ada konsekuensi yang musti dipahami dan dijalani. Tidak melulu parade kemenangan saja yang menghiasi hidup, tapi juga ada parade pergumulan hidup.
Saat Yesus memutuskan untuk makan dengan orang berdosa, Yesus menerima olok-olok. Yesus dicela. Namun, berlandaskan kasih Allah Bapa, Yesus ingin berusaha mengeluarkan kaki orang-orang berdosa yang terperosok ke dalam lumpur itu dan meletakkan mereka di atas jalan berbatu, kembali ke jalan yang benar (Lukas 19).
Demikian juga bila kita ingin mengubahkan anggota keluarga kita, dimulai dari semangat mengasihi mereka yang sesat karena Allah mengasihi mereka, dengan tidak melupakan konsekuensi yang ada (tantangan, hambatan yang bisa berupa cemoohan, disalah mengerti dan lain-lain), serta kesediaan untuk membayar harga; bayar lunas sebagai konsekuensi mengasihi orang tersebut (ingat: Yesus menempuh via dolorosa sebagai konsekuensi mengasihi manusia).
Dalam Minggu Pra Paskah ini, marilah kita melakukan tindakan yang sekarang juga bisa kita lakukan: mendoakan anggota keluarga yang masih 'tersesat', atau mengadakan ibadah keluarga bersama. Formulasi doa dan liturgi ibadah bisa diperoleh di awal/akhir kebaktian Minggu, 1 Maret 2009 di GKI Kutisari Indah.
Langgan:
Entri (Atom)